Kedewasaan dan Ketidakpedulian

September 28th, 2008 by super-maguwo-man

Di malam yang sama saat aku menulis tulisan ini, aku merasa kedewasaanku sedang diombang-ambingkan.

Seperti seorang pelari marathon, aku sedang fokus untuk mencapai garis finish, dan menjaga staminaku tetap ada sampai tiba di garis akhir itu. Aku sungguh tidak mau peduli dengan hal - hal kecil yang mencoba mengganggu konsentrasiku. Aku biarkan keringat bercucuran, bahkan membasahi mataku. Tidak aku abaikan rasa haus yang menyerang kerongkonganku. Panas teriknya mentari aku anggap sebagai pemacu semangat. Aku tetap menjaga langkah - langkah panjangku yang akan mengantarku semakin dekat pada kemenangan.

Hingga suatu kejadian ‘kecil’ datang. Aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman di kaki ku. Rupanya sebutir kerikil telah masuk ke dalam sepatuku. Konsentrasiku buyar. Pikiranku mulai bercabang, bagaimana caranya mengeluarkan kerikil ini tanpa harus mengurangi kecepatan lariku? Bagiku tiap detik adalah kemenangan, dan aku tidak mau kehilangan satu pun. Haruskah aku membawa serta rasa tidak nyaman ini sampai ujung lintasan? Rasa tidak nyaman ini mulai berubah menjadi rasa sakit. Langah ku menjadi semakin pendek. Hal ini jelas menghambatku, menjauhkan ku dari piala pertama. Hanya berorientasi pada hasil, aku lanjut berlari. Rasa sakit itu tidak ada pikirku, kalaupun ada aku tidak peduli.

Tibalah aku di garis finish, dengan kaki berdarah tanpa kemenangan apapun. Duduk terpaku menikmati rasa sakit karena kerikil itu, aku mengamati orang - orang yang finish dibelakangku. Terdapat seorang remaja pada rombongan paling akhir yang tiba di garis finish. Sambil tersenyum bangga kepada teman - temannya yang menunggu di garis finish, bahwa dia bisa sampai finish sekalipun tidak menang. Setelah beberapa saat dia menhampiriku dan menanyakan lukaku.

“Ada apa dengan kakimu kak?” tanya orang itu.

“Kerikil masuk ke dalam sepatuku. Dan aku memaksakan diri untuk berlari, saat itu aku hanya berpikir untuk menang, jadi tidak kepedulikan dan beginilah akibatnya.” jawabku.

“Dan kau menang ?” tanya nya lagi.

“Tidak. Tidak akan dengan kaki seperti ini.”

“Yah, setidaknya kita kita bisa menikmati lomba ini. Itulah piala yang bisa kita bawa pulang, selain yang diperebutkan di podium itu.” katanya kepadaku sambil tersenyum.

***

Semakin dewasa aku semakin tidak peduli pada hal - hal yang aku anggap tidak penting. Orientasi ku hanya pada hasil yang akan aku raih saja. Aku sibuk pada hal - hal besar ku, dan mengesampingkan yang kecil - kecil. Dewasa identik dengan ketidakpedulian dan gampang meremehkan. Tapi apakah itu yang disebut kedewasaan? Aku rasa tidak. Kedewasaan bukan ketidakpedulian. Sebaliknya aku rasa justru aku harus lebih peduli pada hal - hal yang selama ini aku anggap remeh. Ketika selama ini aku mengejar hasil akhir, justru aku lupa menjawab satu pertanyaan yang tadinya aku anggap kecil : “Bahagiakah aku menjalaninya ?”

Attention, Dreamer !

November 28th, 2007 by super-maguwo-man

We are dreamers, we all want to live our dream.
But wait…is it really our dream? or we are chasing someone else’s?

Another question, are we chasing our dream or our dream chasing after us? Who should take control?

Lately, someone accused me over a crime. Someone put a charge on me for breaking her dream. Well, I realized that she went through a very emotional moment. So, I played along. She sent me on a trial of morality. She found myself guilty as I was being so selfish and arrogant. She punished me over an anarchy act ruining her dream she has built upon me.

But wait, is it allowed to build our dream upon someone else’s life? Isn’t that also a crime?

Well maybe, I need to say this on my closing speech:

Your dream should be your dream, and only for you. It doesn’t belong to someone else. Never does. Your dream is on your own hands. It’s in your life, not others.
Never put your dream upon someone else’s life without any commitment, or you’re like putting an egg at a narrow edge. Someday it will fall down and scattered.
Even a committed person could break his/her own commitment. So always keep the dream with you.

You are the one who shaping the dream, others are only coloring.

One broken dream

November 1st, 2007 by super-maguwo-man

I broke your dream, but not your spirit, you said.
That’s good. As I know, it’s not the end of your journey.
So there is no reason to stop, just like uncle Johny said ‘Keep Walking’.
The dream you had built, is not mine. That’s why i stayed outside.

Never put any guilty feeling upon yourself.
There’s nothing wrong about us, but also seems there’s nothing right happens.
Bad timing that’s all I can say. You are at the early stage of relationship, while I have enough up and down. You, with all your do’s and dont’s, are not something to blame on. You have right for that. But it just make me under such a pressure. I sense your domination just around the corner. You remind me of the time when i was young. Conquer and control, that’s my vision. No compassion, less understanding, countless fights, wasted tears, and never ending debates. But that is just the way we grow, right? And I’m seeking deeper than that, because i have had my time for those.

You still have a lot of boxes to be opened. And I count mine…they are becoming less and less. One broken dream all right, but you still have millions more.

Bahasa Itu…

October 14th, 2007 by super-maguwo-man

Bahasa Itu…

Dia masih pakai bahasa itu…
Bahasa tanpa kosakata ‘meminta’ dan ‘tolong’. Di benaknya semua tersedia tanpa dia harus meminta. Di otaknya semua ada tanpa mengucap kata ‘tolong’. Cukup sedikit isyarat tentang apa yang diinginkannya, lalu orang - orang akan datang memberi, sukarela.

Superioritasnya atas orang lain sangat terasa tidak hanya pada tingkah laku, tapi juga tutur kata.  Suatu saat, sewaktu dia butuh tumpangan ke sebuah stasiun kereta, dia hanya berkata kepada kami, aku dan temanku, bahwa dia harus naik kereta jam 5 sore. Tentu saja kami berdua hanya tersenyum, karena kami tidak merasa berkewajiban memberinya tumpangan pun dia tidak meminta. Akibat tawaran tumpangan yang tak kunjung datang dia meninggalkan kami berdua, yang belakangan baru kami tahu kalau dia marah. Akhirnya kami membuang undi untuk menunjuk sukarelawan.

Belum lama, dia bilang padaku begini: "Aku lagi sakit nih…opname, jadi sekarang kamu punya alasan untuk nengok aku.", alih - alih dia berkata: "Aku lagi sakit nih…opname, tolong tengokin aku donk." Jadi dia memang tidak butuh ditengok, justru aku yang butuh nengok dia (pikirnya). Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, dan berpura - pura sibuk, tak punya waktu. Setidaknya sakitnya ringan, jadi memang tidak mendesak untuk ditengok.

Berbahasa ternyata tidak sekedar berucap. Berbahasa seperti berbusana, bisa menunjukan kepribadian pemakainya. Dan selayaknya seorang ratu mengenakan adi busana, dia memakai adi bahasa.

Surat Untuk Adikku

August 24th, 2007 by super-maguwo-man

Halo nyet,

Pie kabarmu disana? Baik – baik aja kan ? Sudah 10 hari sejak kamu pergi, kuharap keadaannya berangsur membaik. Aku panasaran, kamu disana ngapain aja yah? Disana ada apa aja? Ketemu siapa aja? Sorry, terlalu banyak pertanyaan. Tapi pasti kamu disana jadi tahu banyak hal.

Kabar dari kami baik – baik saja. Aku, papa dan mama masih sehat dan kembali pada kesibukan masing – masing. Kami juga nyempatin diri untuk ngurus beberapa hal yang kamu tinggalin, semoga ga ada masalah. Keluarga dan temen dekat juga masih ada yang dateng berkunjung atau sekedar nelpon nanya kabar. Tapi aku agak khawatir nih sama mama mu, kondisinya masih labil, baik fisik maupun emosi. Yah kita doain aja, supaya apa yang dirasakannya cepet berlalu, tidak berlarut – larut.

Aku juga sudah balik kerja, seperti dulu. Tapi emang ga bisa sama seperti dulu. Sekarang kemana – mana sendiri, gak bisa ngajak kamu lagi. Jadi gak ada partner buat patungan beli macem – macem. Gak ada yang cerewetin aku lagi soal baju, sepatu, kencan dan ngabisin duit ….ha ha ha. Sudahlah…romantisme masa lalu, aku sudah mulai terbiasa. Sekarang papa dan mama nanyain terus kapan aku mo nikah, …ha ha ha …walah …jadi pusing mo jawab apa. Lah wong aku masih gak jelas gini, coba ? Mungkin mereka lagi cari figur pengganti kali ya ? Semua perhatian jadi tertuju padaku, bikin sedikit tertekan, tapi akan kucoba menikmati. Yang jelas dukung perjuanganku dalam mengarungi hidup dan menjalani obsesiku yah… Beri petunjuk buat kakakmu yang sering sesat jalannya ini …wakakaka …lewat mimpi juga boleh.

Udah dulu ya …lain waktu disambung lagi. Salam buat Tuhan, bilang makasih ama Dia udah mau jagain kamu disana. Oh ya …sekalian tanyain ama Dia, kapan giliranku ? Aku udah nunggu – nunggu neh !

We always love you.

Bye.

Perspektif Kondom

August 23rd, 2007 by super-maguwo-man

Sebuah lagu lama terdendang kembali. Seorang kawan lama membawa kabar dari sang fenomena )SF) kembali berkutat dengan permasalahan yang sama, dilabrak istri orang. Sebenernya udah kesekian kali….jadi wes biasa toh ?….Gandrik!! Sebuah persahabatan dengan pria beristri (PB) menghantarnya kembali pada simpul cerita yang berulang, dicemburui si istri (SI). Entah dimana letak salahnya, antara gaya bersahabat SF dengan PB atau SI memang cemburuan. Yang jelas ada yang tidak pas bagaimana mereka meletakkan persahabatan itu di tengah – tengah sebuah perkawinan…bersahabat dengan pria beristri sepertinya harus bersahabat dengan istrinya juga, kalo selintutan, yo siapa yang ndak curiga ya toh?…..

Aku sendiri gak tahu persis permasalahan yang terjadi…dan gak butuh tahu juga…lebih suka tempe ya say…, tapi menarik untuk dicatat adalah bagaimana SF bereaksi terhadap permasalahan ini, saat dia berkomentar bahwa persahabatannya yang sangat benar harus berakhir untuk alasan yang sangat salah. Ha ha ha…ternyata SF memang tidak berubah, masih self centered seperti dulu…..benar?…salah?…hak siapa untuk menilai? kamu?

Mengingatkanku akan sebuah kampanye kondom dengan tag line nya: "why is it always about you?" Berkonsep tentang seorang cowok yang tidak mau pake kondom demi kepuasannya sendiri, dan seseorang bertanya kepadanya kenapa kamu hanya memikirkan dirimu. Namun konsep ini tidak digambarkan vulgar, dipake ide cerita seorang cowok yang tidak mau dibujuk pake safety belt saat naek roller coaster. Wellthe point is kondom itu tidak hanya untuk melindungi Mr. P, tapi untuk melindungi Mrs. V juga. Tapi seberapa banyak pria yang mau melihat dari perspektif ini ?

Melihat sebuah permasalahan lepas dari sudut pandang diri sendiri memang tidak gampang. Mengerti perasaan orang lain juga tidak mudah. Seperti betapa susahnya aku mengerti mengapa SF harus merasa hancur ketika mengakhiri persahabatannya dengan PB demi keutuhan sebuah pernikahan. Tidak kah SF harusnya bisa mengerti kekhawatiran SI terhadap PB, yang suaminya sendiri ? Anggaplah itu sebagai sebuah pujian atas pesona dirinya…..SF bisa punya banyak sahabat…tapi SI cuma punya satu suami…iya kan ? Bisa jadi SF harus mengevaluasi cara dia bersahabat, karena kasus seperti ini tidak hanya sekali terjadi padanya. I know all the theories !!! teriak SF kepadaku. Dia pikir aku sedang berteori….padahal aku cuma sedang bertelor…

Wah…wah…wah…kalo sudah self centered jadi susah diajak berpikir pake perspektif lain. Aku berkesimpulan bahwa SF tidak bisa mengunyah pembelajaran dari perspektif kondom. Tidak semua hal adalah melulu tentang diri sendiri. Kalo susah mengunyah perspektif kondom, mungkin lebih baik mengunyah kondom nya saja…tersedia dalam berbagai rasa loh…iiiigghhh.

Buat SF…selamat mengunyah!!!

Batere HP lebih penting, mas !

June 29th, 2007 by super-maguwo-man

Ada dua kasus menimpaku…kayak
kejatuhan pohon aja, sok tragis
….yg sama – sama melibatkan batere HP. Dua
kasus yang nuansanya beda tapi intinya sama, menegaskan bahwa batere HP lebih penting
dari apapun…

Kasus 1

Baru kali ini aku
kerja nonstop 2 x 24 jam…harus lapor pak RT loh om….karena load kerja emang
lagi banyak nih. Menyedihkan karena tidak berpengaruh pada pendapatan, hiks. Tapi
yo wis lah, aku berusaha jadi orang yang berdedikasi pada tanggung jawab yang
aku pegang. Saking fokusnya aku sampai melupakan hal – hal yang ku anggap remeh
seperti : mandi, gosok gigi, tidur, ganti baju, pamit sama orang di rumah kalo
aku gak pulang 2 hari…gak ada yang nyari lagi… dan mengisi batere HP. Hal
yang terakhir ini bikin aku putus kontak dengan siapapun, karena batere HP gak
tahan lebih dari 3 hari. Terakhir ngisi batere memang 5 hari yang lalu. Susah
juga cari pinjeman batere atau charger yang sejenis. Mang nih HP rada – rada antik,
leluhurnya para HP.

Dodol !!!…bukan
masalah kerjaan yang dikomplain sama supervisorku, malah lantaran aku kehabisan batere HP jadi gak bisa
dihubungi, soalnya menurut dia keep in touch itu lebih penting….emang si boss ni
suka touching – touching yah tangannya?
… Gagal berkomunikasi berarti gak bisa
kasih progress
report kerjaan dan gak bisa dimonitor ma atasan, jadi siapa yang
tau kamu kerja apa tidur, begitu katanya. HP harus selalu nyala, titik. Boss dimana-mana mang ga bisa dibantah….makanya bikin usaha sendiri bro, kalo mau gak bisa dibantah

Kesimpulan

Iya boss, next project aku bawa – bawa charger deh, puas…puas…?

 
Kasus 2

Janji nonton hari
minggu siang ma temen. Sudah dirancang sejak 2 minggu yang lalu. Sebenerne
janjiannya minggu kemaren, cuma karena dia gak bisa ya jatuhlah minggu ini
sebagai pengganti.

Temen
atau……ehmm…. yah temen aja deh. Seorang cewek dengan catatan historis
yang sangat panjang, menyedihkan dan memalukan, setidaknya buatku. Kami pernah
saling suka tanpa diketahui oleh masing – masing pihak…jadi apa bedanya sama
saling tidak suka?
…Aku malah sempet pacaran sama temen kuliahnya dan temen
kostnya. Ini yang bikin dia sakit hati. Padahal kami ga pernah jadian, jadi
kenapa harus sakit hati ya?…dasar wanita maunya ditebak dan ditembak …Oke,
cukup! Setelah peristiwa panjang yang menyedihkan dan memalukan itu, kami keep in touch lagi
dengan atmosfer baru…bukan touching – touching loh ini murni soal komunikasi
bung !

Sabtunya aku coba
hubungi dia tapi gagal total. Telpon ga diangkat, sms ga dibales. Minggu pagi
aku coba lagi, no result. Senin aku coba lagi, sama aja. Jelas aku berhak
penasaran dong. Gak ada kabar sama dengan mengkhawatirkan, apalagi dia cewek
perantauan. Rasa heroisme mendorongku untuk mencari tahu apa yang sebenernya
terjadi. Selasa sore aku telpon dia dari kantor….sori boss, aji mumpung

 Halah !!!!…..ternyata diangkat…..anjriit, apaan seh? bikin kaget
aja
….Maka terjadilah percakapan yang demikian:

 <saya>Halo..
(suara berseri-seri)

<beliau>Ya,
ada apa?…(suara berat dan bt)

<saya>Gak
sih cuma ngecek aja, soalnya kemaren batal tanpa ada berita.

<beliau>Oh …tapi apa harus miscol sebanyak itu ya?

<saya>Loh
memang kenapa? (sok innocent)

<beliau>Ya
percuma aja, HP ku tuh ketinggalan dikantor. Jadi kamu miscol segitu banyak gak
bakalan ketemu aku !(suara udah setengah teriak, masuk range desibel yang bikin
kuping gak nyaman)

<saya>Trus
kenapa? Kamu rugi apa kalo aku miscol segitu banyak? (masih bingung)

<beliau>Ya,
batere HP ku kan jadi habis….

PLAAKKK..!

Sumpah, baru kali
ini aku ditampar pake alasan yang susah dicerna. Mesin logika ku tersendat,
berpikir lebih keras, persis seperti kalo kita naik mobil trus tiba – tiba nyalain
AC. Yen tak pikir – pikir, kalo HP sudah ketinggalan di kantor, otomatis kan dia sudah putus kontak, jadi akankah bisa lebih buruk kalo baterenya juga
habis? Lalu kalo HP nya ketinggalan di kantor, pasti hari Senin HP dia sudah
ada ditangan, karena dia masuk kerja, tapi gak juga kasih kabar atau sekedar basa
– basi: sory kemaren aku sibuk, jadi acara kita batal.

Mungkin
perbuatan di masa lalu membuatku layak diperlakukan seperti ini. Setidaknya gak seburuk diusir pake anjing, seperti yang dialami temenku waktu PDKT sama
seorang cewek…..it’s a true story, swear…..Tapi boleh dong aku bilang
enough is enough. Aku jelas gak mau hubungan (apapun itu)…siapa juga yang masih mau sama aku? … yang masih dibayang-bayangi
kesalahan masa lalu. Gak enak guys…!

 Kesimpulan

Aku langsung
buang nomer kontak nih cewek. Bukannya sakit hati ato apa…halah…tenane?….Cuma
jadi takut aja mau hubungi dia, takut bikin dia kehabisan batere. Batere HP dia lebih
penting dari aku, ha ha ha …he he he …hiks hiks hiks …hu hu hu ….sekali lagi anda benar boss
!

                                  ***

Betapa teknologi
sudah merubah banyak hal, termasuk rona kehidupan sosial. Teknologi
menghadirkan kemudahan dan keleluasaan dalam berinteraksi. Ia telah membebaskan kita dari belenggu
jarak dan waktu, tapi memperbudak kita disisi yang lain. Kita jadi terbelenggu
oleh ritual ngisi batere, ngisi pulsa, ganti model HP dan harus spent more money. Belum lagi hadirnya teknologi 3G, 3.5G, HSDPA… yang beginian tolong tanya om Roy Suryo aja yah…yang kira - kira akan membelenggu kita dari sisi privasi
ancaman buat orang yang suka selingkuh

Boleh sih kalo kita bilang it’s worthed, sepadan sama kemudahan yang kita dapatkan. Tapi apakah produk teknologi jadi lebih tinggi nilainya daripada nilai seorang manusia ?…..manusia selain saya maksudnya, karena saya sudah terbukti gak lebih penting dari sebuah batere HP…wakakaka.

Jadi batere HP
lebih penting, mas !

 

Wanita Modern, Srikandi dan Sinta

June 24th, 2007 by super-maguwo-man

Pada
alam pikirku, terbersit dua tokoh dalam pewayangan, yang menarik
buat mengisi lamunanku tentang wanita.
Dua tokoh itu adalah
Srikandi dan Sinta. Tapi aku lebih suka membahas Sinta dahulu, karena
nama Sinta lebih dikenal umum ketimbang Srikandi. Tidak perlu
melibatkan A.C. Nielsen – yang suka bermain dengan statistik –
untuk mengetahui lebih banyak wanita yang bernama Sinta ketimbang
Srikandi.

Sinta,
istri Sri Rama dikenal sebagai sosok yang setia, dan gak neko –
neko
. Berperilaku baik sebagai seorang wanita dan seorang istri. Bahkan untuk membuktikan kesucian cintanya Sinta rela membakar
diri, supaya keharumannya menjadi nyata di hidung Sri Rama yang
tertutup upil berbau tengik. Sinta mewakili sosok wanita yang lembut,
penurut, tulus, berbudi halus, setia, penuh cinta, berbakti dan
berani mati. Tetapi dibalik itu tergambar juga Sinta sebagai sosok
yang menggantungkan kebahagiaannya pada Sri Rama. Wanita yang lemah,
selalu pasrah. Demi membangun kembali kepercayaan suami terhadap
dirinya, dia memutus nyawanya sendiri. Tidak ada kebahagiaan jika Sri
Rama tidak percaya akan cinta dan kesetiaannya, mati pun jadi tidak
rugi. Mengapa Sinta harus mati harapan saat Rama
meragukan cintanya? Kalo aku bisa mengembangkan ceritanya, akan aku
buat begini :

Sinta
berucap kepada Rama.

“What
is love without trust? I’m your faithful wife. You are the love of
my life.“

Rama
bersabda kepada Sinta.

You
have to prove it. Women are clever with words. You have been captured
by Rahwana for so long. It’s impossible that He did nothing to
you.”

“How
could you say that? What kind of woman do you think I am? I swear it.
He never touched me. I never let him. How could I prove it to you? “

Burn
yourself ! Jump into the fire. If I can smell
flower scent out from your fucking burned corpse, then all your words are true. But I doubt it.”

“But
I’ll be dead then. And what is good from a burned dead body? “

But
your love will still live in my heart, forever. That’s important
for me.”

“I’m
sick of you, Rama. I’m sick of your ego and your arrogant noble
attitude. Why is it always about you? I’m not going to jump into
the fire only for fulfilling your selfish demand. In fact, I want a
divorce.”

I’m
a king and a knight. My words should be obeyed. I will divorce you as
you have failed to prove your love and faithfulness to me.”

“Good
bye, my ex-husband. I used to love you, but not anymore. You are an
ego-maniac.” 

Lalu
Sinta meninggalkan Rama, kemudian bertemu dengan seorang petani
tampan. Mereka menikah dan hidup bahagia dalam kesederhanaan yang
bersahaja. Sedangkan Rama juga menikah lagi, bahkan sampai 10 kali.
Tetapi tidak ada usia perkawinannya yang bertahan
lama, dan selalu berakhir dengan kematian istri – istrinya.
Mengapa? Apakah Rama mendapat kutukan sehingga istri – istrinya
mati semua? Tidak. Istri – istrinya mati membakar diri, setiap Rama
meragukan cinta dan kesetiaan mereka. Cinta memang membutuhkan
pengorbanan.

 Jadi, Sinta bisa saja memilih orang lain yang lebih mempercayai dia,
yang mencintai dengan sederhana dan tidak harus mati karena cinta.
Apakah Sinta berkurang kemuliaannya bila dia menampik permintaan Rama
yang ego-sentris itu? Dan aku tetap berpikir mengapa masyarakat
memakai kiasan Rama & Sinta untuk menggambarkan pasangan sejoli,
sementara kisah cinta mereka berujung tragis oleh kesombongan dan
ketidakpercayaan Rama terhadap Sinta. Apakah lantaran budaya
patriarkal, yang berharap para wanitanya mau berkorban nyawa demi
lelakinya? Apa ini strategi pembodohan oleh lelaki terhadap wanita?

****************************************************************************************************

Srikandi,
merupakan ksatria wanita, ahli panah, salah seorang istri dari
Arjuna.
Mungkin bila digambarkan adalah
kebalikan dari Sinta. Tetapi bukan berarti Srikandi adalah wanita
nakal dan binal. Atau mungkin juga iya? Dia kan bukan satu –
satunya istri Arjuna. Mungkin Arjuna yang kegatelan, suka ngumbar
libido. Tapi toh Srikandi mau juga dipersunting Arjuna. Yang jelas
sosok Srikandi adalah sosok yang tangguh karena dikenal sebagai
ksatria wanita dan mampu hidup poligami. Banyak cerita yang
menggambarkan karakter Srikandi lebih dalam, tetapi kita dapat
menangkap bahwa Srikandi adalah wanita perkasa.

Lalu
mengapa Srikandi harus menjadi istri Arjuna? Dia tangguh dan perkasa,
dan pasti tak hanya Arjuna yang jatuh cinta kepadanya. Srikandi sudah
punya segalanya, menjadi seorang ksatria, jago memanah, dan hidupnya
di kalangan bangsawan. Mengapa harus Arjuna yang menaklukan hatinya?
Aku mempertanyakan apa yang Srikandi butuhkan dari seorang playboy
seperti Arjuna yang beristri banyak itu. Misalnya saja Srikandi
jatuh cinta dengan Cakil, sosok antagonis yang selalu ditempatkan
sebagai pecundang, pasti ceritanya jauh lebih menarik.

Arjuna Sasrabahu, sang pangeran cinta, kumbang penghisap madu, merayu
Srikandi untuk dipersuntingnya:

Adinda
Srikandi, dikau pujaan hatiku.
Parasmu nan
elok bak bunga mekar yang menggoda kumbang. Hatiku bergetar saat
menatap kedua matamu. Ujung panahku tak bisa menemukan sasarannya,
saat bayanganmu hadir di kepalaku. Aduh Adinda, kiranya diriku telah
jatuh cinta kepadamu.”

Terima
kasih Kakanda, atas pujian dan cintanya.
Namun
hamba tidak bisa menerima tawaran cinta Kakanda”.


”Mengapa kiranya wahai Srikandi nan jelita? Kita punya banyak
kesamaan, sama – sama jago manah, sekti mondroguno, anak bangsawan,
sejoli yang bakal bikin semua lelaki negeri Astinapura menjadi iri
hati.”


Maaf Kakanda Arjuna. Hatiku telah memilih, hatiku telah berpadu
cinta dengan seseorang. Despite semua kesamaan yang kita punya, which
is tidak menjamin kebahagiaan ada di antara cinta kita, aku telah
jatuh cinta pada seseorang terlebih dahulu.”


”Jahanam mana yang telah menaklukan hatimu? Pangeran darimana dia?
Haruskah kutaklukan negerinya untuk bisa memilikimu?”


Bukan seorang pangeran, Kakanda. Dia hanya jelata dari kalangan
raseksa. Namun dia telah benar – benar taubat, setelah mendengar
lagu : Andai Ku Tahu dari grup band Ungu. Dan aku tulus mencintainya.
Dia adalah…….Kangmas Cakil.”

Gandrik
! Jagad Dewa Bathara !
Lelucon apa ini,
Adinda?
Kalian seperti bumi dan langit,
kaki dan kepala. Apakah kamu tidak menyadari akan banyaknya usaha dan
pengorbanan untuk menyatukan perbedaan itu. Sebagai contoh saja,
berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk operasi plastik
rekonstruksi rahang dan gigi Cakil, supaya kamu bisa mencium cangkem
si Cakil tanpa terluka oleh rahangnya yang maju ke depan dan gigi –
giginya yang tajam?”


Itu adalah resiko dari pilihan hatiku, Kakanda Arjuna.”


”Menikahlah denganku Srikandi! Kau akan punya segalanya,  aku
adalah pangeran putra Pandu Dewanata, terlahir dengan kasta
terhormat, kekayaan dan cinta selalu menyertaiku, dan kau akan
menikmatinya secara berkelimpahan bila menjadi istriku.”


Sebagai ksatria wanita, aku adalah wanita yang mandiri, dan
tidak lagi mengejar materi. Aku seorang wanita karier, punya sekolah
memanah sendiri. Apa yang Kakanda tawarkan tidak menarik bagiku. Aku
sendiri sudah hidup berkecukupan. Aku hanya ingin mendapat cinta
sejatiku, yaitu  Kakang Cakil.”


”Dia cuma pecundang busuk, yang selalu kalah di setiap
pertempuran. Sedangkan aku ksatria sejati yang hidupnya tiada lengkap
tanpa cintamu.”


Tapi Kakang Cakil telah memenangkan hatiku, lagipula sampeyan
punya banyak istri. Aku anti poligami, Kakanda Arjuna!”


”Baiklah aku terima keputusanmu. Tapi ingatkan pada Cakil kekasihmu
itu, suatu saat bila aku bertemu dengannya akan kuhabisi nyawanya,
sehingga cintamu bisa kurengkuh.”


Sebelum engkau bisa menyakiti kekasihku, panahku akan menembus
jantungmu terlebih dahulu, Kakanda Arjuna !”


”Kita lihat saja nanti, ingsun pamit, Srikandi !”


Enyahlah !”

Kenyataanya Srikandi adalah istri Arjuna, dan Cakil tetaplah
pecundang. Seorang wanita tangguh seperti Srikandi memilih seorang
Arjuna yang ksatria juga, seseorang yang berkemampuan lebih. Bukankah
ketangguhannya berarti kemandirian ? Dan kemandiriannya berarti
kebebasan hatinya untuk memilih pasangan hidupnya dari kalangan
manapun tanpa perlu melihat status. Seseorang wanita yang lemah
mungkin akan memilih pria yang kuat untuk melengkapi hidupnya.
Mengapa seorang wanita yang kuat harus memilih pria yang kuat pula?
Tidakkah dengan kekuatan yang dimilikinya, dia berani menerima yang
lemah? Atau karena Cakil adalah produk gagal yang tidak punya PD
untuk bersanding dengan Srikandi ?

****************************************************************************************************

Namun tidak ada cerita yang lebih menarik ketimbang kehidupan itu
sendiri, walau kehidupan malah tak ubahnya seperti cerita dalam
wayang.  Wanita dalam kehidupan ini, terutama dalam tataran budaya
timur, yang terkontaminasi kompleksitas kehidupan modern
kapitalistik, tak ubahnya antara Srikandi dan Sinta. Sama – sama
tidak berani mengambil resiko. Selalu memilih pilihan – pilihan
yang aman meskipun bersifat sementara. Walaupun emansipasi digembar –
gemborkan, kesetaraan diperjuangkan, tetap saja wanita memiliki
kecenderungan untuk menggantungkan kebahagiaannya kepada jenis lelaki
tertentu. Terlebih lagi soal kebahagiaan finansial. Materialisme
menjadi lebih identik dengan wanita ketimbang pria. Meskipun ada
wanita yang kuat secara finansial, mereka pasti juga mencari yang
punya kekayaan lebih lagi. Kalaupun ada yang sebaliknya,
prosentasenya terlalu kecil, sampai – sampai tidak berarti bila
diperbandingkan.

Selamat datang di dunia kapitalis ! Pria miskin, menangislah !

Egoisme Cinta, Saatnya Menikmati Cinta

June 21st, 2007 by super-maguwo-man

Dia telah menjadi pujaan hatiku sejak pertama aku melihatnya. Wajahnya lembut keibuan, persis seperti yang pernah kuimpikan. Paras wajah yang dapat mewakili kasih sayang, penuh pengertian, santun dan sabar. Senyumnya, rambutnya, giginya, bibirnya terasa berpadu sempurna tanpa cela.Ya sudahlah, aku suka padanya, itu saja. Aku gak mau terjebak pada kesan pertama dan kecewa pada akhirnya. Aku dan dia bekerja pada perusahaan yang sama, tapi beda departemen. Pertama bertemu saat makan siang di kantin karyawan. Dia berjalan menyusuri ruang makan menebarkan pesona, selayaknya kupu – kupu terbang membelah kebun bunga dengan angin dari kibasan sayapnya. Begitu mudahnya aku jatuh cinta. Hatiku tunduk bersimpuh, menyerah tanpa syarat.

Sebenarnya tidak terlalu sering aku jumpa dia di kantin karyawan. Faktanya kami tidak memiliki jam kerja yang sama. Pekerjaan juga tidak memberi kesempatan bagiku untuk sesering mungkin bertemu dengannya, atau sekedar bisa memiliki jam makan yang berbarengan. Yang selalu kutunggu adalah jam pulang kerja dimana aku lebih punya peluang untuk bertemu dengannya, atau boleh dibilang aku menunggunya pulang. Saat itulah kali pertama aku bertatap muka dengan dia. Gugup, canggung, tidak tahu harus berbuat apa, melempar senyum atau membuang pandangan. Tapi diantara kebingungan itu, akhirnya berhasil juga aku melempar senyum termanis untuk dia. Mungkin sekarang dia menganggapku orang yang ramah.

Pernah suatu kali aku melihatnya berjalan sendirian di jalan depan kantor, dan aku memberanikan diri untuk menawarinya tumpangan.

“ Sendirian, mbak ? ”

Sebuah pertanyaan bodoh, jelas – jelas dia sedang berjalan sendirian.

“Iya”

“ Mau bareng saya ? ”

“ Terima kasih. Saya jalan aja, nanti merepotkan.”

Sebuah penolakan yang halus, tidak membuatku patah semangat. Justru membuatku bergairah untuk ajakan kedua.

Keesokan harinya aku masih melihatnya berjalan sendirian di jalan depan kantor.

“ Yakin mbak, gak mau bareng saya ? ”

“ Gak !”

Jawabnya singkat dan tegas, hampir – hampir tidak membutuhkan waktu berpikir untuk menjawab pertanyaanku tadi.

“ Tinggal deket sini ya? “

“Iya !”

Kering dan hambar. Ini jelas – jelas sebuah penolakan, bukan sebuah itikad untuk menunjukan sikap jinak – jinak merpati. Tapi entah mengapa aku masih bisa menikmati momen itu.

Semakin sering aku menunggunya pulang, yang membuatku harus menunggu 1 jam setiap harinya, semakin banyak senyuman kusiapkan untuk dia. Aku tahu dia mulai menyadari keberadaanku. Mungkin sekarang dia menganggapku sebagai pengganggu.

Satu minggu berlalu tanpa tatap muka dengan pujaan hatiku. Sebuah kesibukan mengharuskanku tidak berpikir tentang dia, karena aku berpikir tentang Dona, partner kerjaku yang baru. Kami berada dalam satu tim, dan sangat cocok. Seakan semangat dan roh kami adalah satu. Baru 8 jam aku bekerja bersamanya, hati sudah bertaut akrab. Begitu mudah aku jatuh cinta, dan ini bukan kali pertama.

Aku dan Dona berjalan pulang selepas kerja, menuju tempat parkir. Melewati selasar yang berliku – liku dan penuh belokan, sehingga kami harus berhati – hati, kalo tidak bisa bertabrakan dari arah depan. Tiba – tiba wajah itu terlihat lagi, wajah pujaan hatiku. Muncul dari belokan di depanku, saat aku sedang berbincang akrab dengan Dona. Kutatap lekat wajah pujaanku itu, kubagi perhatianku antara Dona dan dia. Aku melihatnya melempar senyuman. Entah senyum kelegaan – karena aku akrab dengan orang lain, sehingga tidak akan mengganggunya lagi – atau senyum kecut – karena dia menyangka aku hanya memuja dirinya saja. Mungkin sekarang dia menganggapku buaya darat.

Cinta kadang menjadi makhluk yang sangat egois. Menuntut tanpa memberi ruang bagi pengertian, menilai dan melihat berdasarkan kepentingan semata. Cinta tidaklah pernah bebas dari nilai. Omong kosong bila ada yang bilang cinta suci dan murni kecuali jika sedang bicara soal Tuhan atau khayalan. Cinta adalah pedang bermata ganda, bisa menolong, juga mencelakai. Cinta bisa memabukkan sekaligus mematikan.

Cinta dapat dipahami sebagai hal yang irasional, namun bukan berarti tidak dapat disikapi secara rasional. Janganlah hidup karena cinta, tetapi hiduplah untuk mencinta. Janganlah menjadi orang yang menerima cinta, jadilah orang yang memberi cinta, karena cinta tiada habisnya, niscaya kita akan menikmati cinta….yang pada akhirnya kita akan menikmati hidup.

Keyakinan vs Kepentingan

June 11th, 2007 by super-maguwo-man

Aku belajar bahwa hidup adalah selembar kertas kosong yg BEBAS aku isi sekehendak hati. KeBEBASan pada akhirnya membawaku pada satu titik dimana aku harus menentukan PILIHAN. Dan aku tahu dibalik setiap PILIHAN selalu menanti sebuah KONSEKUENSI yang harus aku hadapi.

Aku belajar bahwa dalam hidup ini KEYAKINAN ku dan KEPENTINGAN ku tidak selamanya seiring sejalan. Justru dua hal ini, yang seringkali mendasari setiap PILIHAN yang aku buat, lebih sering berseberangan.

Lalu bagaimana aku harus menentukan PILIHAN, sesuai dengan KEYAKINAN ku kah? Atau KEPENTINGAN ku? Sebuah pertanyaan moral yang selalu terngiang di telingaku setahun belakangan ini.